Soal Wisman Berbikini, Datuk Tandiko Nilai Dispar Kampar Tak Punya Konsep Jelas
KAMPAR - Video viral yang menunjukkan wisatawan mancanegara (wisman) berbikini saat berkunjung ke objek wisata Danau Rusa, PLTA Koto Panjang, memicu reaksi keras dari tokoh adat Kabupaten Kampar.
Sawir Datuk Tandiko, salah satu pemuka adat Kampar, meminta pemerintah daerah segera memperjelas konsep pariwisata agar tidak berbenturan dengan norma agama dan budaya setempat.
Datuk Tandiko menegaskan bahwa secara pribadi dan lembaga adat, dirinya tidak pernah menolak kehadiran wisatawan, termasuk turis asing.
Ia mengakui kehadiran wisatawan mancanegara di Danau Rusa merupakan bukti adanya potensi wisata yang besar di daerah Kabupaten Kampar.
"Intinya kami selaku tokoh adat tidak pernah menolak wisata. Bahkan saya mendukung supaya wisata kita berkembang dan bermanfaat untuk ekonomi anak kemenakan," ujar Datuk Tandiko kepada awak media, Selasa (10/2/2026).
Meski mendukung, Datuk Tandiko memberikan catatan kritis. Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Kampar memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan daerah wisata lain. Kampar dikenal sebagai daerah yang kental dengan nilai religius, tradisi suluk, dan ziarah.
"Kalau ingin mengembangkan wisata, tentu harus melihat keadaan daerah itu. Tidak bisa disamakan dengan daerah lain Daerah kita ini daerah beradat, daerah beragama," tegasnya.
Ia menyayangkan jika demi mengejar kunjungan wisatawan, nilai-nilai lokal justru diabaikan. Menurutnya, pengembangan wisata harus selaras dengan identitas Kampar yang religius.
Terkait insiden turis berbikini tersebut, Datuk Tandiko menyentil Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar yang dinilai belum memiliki konsep pengembangan wisata yang matang dan terarah.
"Selama ini kan hanya mengembangkan-mengembangkan saja, tapi tidak ada konsep yang jelas. Apa objeknya, siapa sasarannya? Jangan asal orang datang saja," tuturnya.
Ia menyarankan agar ada aturan yang jelas atau semacam 'lokalisir' perilaku jika memang ingin menyasar turis mancanegara, tanpa harus mempertontonkan hal-hal yang melanggar norma di ruang publik yang bisa dilihat masyarakat luas.
"Bagaimana kita membungkus wisata itu tanpa mengabaikan kearifan lokal. Jangan dibuka begitu saja (bebas), kita ini punya agama dan adat. Kalau dibiarkan, ini bisa menjadi contoh yang tidak baik ke depan," tambah Datuk Tandiko.
Datuk Tandiko berharap Dinas Pariwisata segera menyiapkan sarana dan prasarana serta regulasi yang sesuai dengan nama besar Kampar sebagai Serambi Mekkah-nya Riau.
"Harapan kita ke depan, Dinas Pariwisata menyiapkan konsep yang sesuai dengan norma. Baik itu wisata alam maupun wisata religi, semuanya harus jelas aturannya agar tidak terjadi gesekan di tengah masyarakat," pungkasnya. RZ
Editor : Reza MF
Berita Terkait
Berita Terbaru
THR Tak Dibayar Penuh, Menaker Sidak Perusahaan di Semarang
- Nasional
- 01 April 2026 05:41 WIB
Kejari Rohil Gelar Coffee Morning Bersama Insan Pers, Firdaus Tekankan Sinergi dan Keterbukaan Informasi
- Rohil
- 01 April 2026 05:35 WIB
IBOS Expo 2026 Kembali Digelar Agustus, Targetkan 7.500 Pengunjung dan 120 Brand Peluang Bisnis
- Nasional
- 31 Maret 2026 19:24 WIB
Menaker Tekankan Peningkatan Layanan Kemnaker agar Lebih Mudah Diakses
- Nasional
- 31 Maret 2026 18:53 WIB
PLN Peduli Mangrove Berakit: Dari Akar yang Ditanam, Harapan Masyarakat Tumbuh
- Nasional
- 31 Maret 2026 18:48 WIB
Dari Trauma ke Kinerja: PT Patra Drilling Contractor Edukasi Karyawan Lewat Health Talk
- Nasional
- 31 Maret 2026 16:20 WIB
Lantik PAW Bapekam, Bupati Siak Tekankan Sinergi dan Pengawasan di Tengah Tekanan Fiskal
- Siak
- 31 Maret 2026 12:26 WIB
Sekretaris Komisi II DPRD Kepri Kritik Keras Rencana PSN Pulau Poto
- Kepri
- 31 Maret 2026 05:37 WIB
Bupati Afni Minta Kepsek Kawal Program Makan Bergizi Gratis
- Siak
- 30 Maret 2026 21:44 WIB
Tebar Manfaat Seraya Penuhi Hak WBP, Lapas Tembilahan gandeng BAZNAS Hadirkan Dampak nyata
- Inhil
- 30 Maret 2026 13:53 WIB
Gubernur Ansar Ahmad Pimpin Apel Perdana Pasca Idulfitri, Minta ASN Kepri Tingkatkan Kinerja
- Kepri
- 30 Maret 2026 13:39 WIB
