Bersama BRI, Khairul Fikri Bermimpi Ciptakan Ekosistem Perikanan Patin
KAMPAR- Khairul Fikri, S.Pi (32) alumni sarjana perikanan Universitas Riau (UR) ini membuktikan bahwa bisnis di bidang perikanan yang terkesan sepele ternyata mampu mendatangkan omset puluhan juta tiap bulannya.
Fikri, Pemilik Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) Tunas Muda Fish Farm ini mampu menjawab tantangan disaat keterbatasan lowongan pekerjaan di Indonesia.
Tunas Muda Fish Farm berdiri sejak tahun 2017 lalu di Desa Lereng, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar. Dengan bermodalkan keberanian, Ia kemudian mencoba mengimplementasikan ilmu yang didapat pada bangku kuliah dengan membuka hatchery (pembenihan) ikan patin.
"Awalnya memang berangkat dari kondisi permintaan bibit ikan untuk Kabupaten Kampar yang tidak tercukupi, selama ini bibit ikan patin pada umumnya didatangkan dari pulau Jawa, tepatnya dari Kota Bogor," ujarnya kepada resonansi.co, Rabu (9/4/2025).
Untuk memperkuat dan mengembangkan usaha tersebut, Fikri juga mengambil kursus kilat di Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi.
"Selama satu bulan saya digembleng bagaimana tata cara pembenihan ikan patin secara profesional," ujarnya.
Tidak sampai disitu saja, Khairul Fikri juga memanfaatkan koneksi dengan mengajukan KUR BRI. Pada tahap I, Fikri mengajukan KUR BRI sebesar 25 Juta Rupiah pada tahun 2017. Dana tersebut digunakan untuk pembelian induk patin sebanyak 80 ekor serta pembuatan sebuah kolam indukan patin.
Setelah jalan 2 tahun, badai COVID-19 datang. Sejumlah sektor usaha mengalami kelesuan. Termasuk usaha hatchery terkena imbasnya. "Pada saat itu permintaan ikan patin menurun, dan berdampak juga pada permintaan bibit," ujarnya.
Dengan kondisi tersebut tidak membuat Fikri patah arang. Berbekal pengalaman, kemudian Ia kembali mengajukan KUR BRI tahap II sebesar 100 Juta pada tahun 2021. Modal tersebut Ia gunakan untuk menata kembali usaha yang terkena dampak pandemi. Dalam perjalanannya, KUR tersebut lunas pada tahun 2024.
"Pada saat itu pimpinan cabang BRI Bangkinang langsung melakukan survei lokasi yang memang cukup tertarik dengan usaha pembibitan patin ini," ujarnya.
Kini, hatcery Tunas Muda Fish Farm begitu modern. Lahan seluas 150 meter persegi tersebut terdapat tiga kolam indukan, satu ruang pembenihan dan puluhan bak untuk penampungan bibit kokoh berdiri.
Ia mengatakan metode pembenihan ikan patin pada Hatchery Tunas Muda dilakukan secara buatan dengan metode kawin suntik.
"Kemudian telur ikan patin dibiarkan hingga telur menetas menjadi larva. Larva sangat rentan sehingga perlu dirawat dengan hati-hati," ujarnya.
Fikri mengatakan bahwa potensi perikanan, terutama ikan patin sangat besar. Kebutuhan sentra pengolahan ikan patin di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kecamatan XIII Koto Kampar saja mampu memproduksi salai patin sebesar 100 ton per bulan.
Tentu dengan potensi tersebut juga membutuhkan pasokan bibit patin yang melimpah. Untuk saat ini hatchery Tunas Muda Fish Farm mampu menampung 1 Juta Larva patin. Dengan persentase keberhasilan sebesar 70 persen satu siklus produksi.
Setelah 24 jam larva akan berubah menjadi bibit patin. Setelah 25 hari, bibit patin sudah bisa dijual atau dibudidayakan pada kolam. Fikri mengatakan bahwa saat ini rata- rata sekali siklus produksi hatcery tersebut bisa menghasilkan 400 ribu sampai 500 ribu bibit patin perbulan dengan harga per ekor 130 rupiah.
"Larva yang berumur sehari juga bisa mendatangkan cuan, yang dihargai sebesar 8 rupiah," ulasnya.
Ia mengatakan keberadaan BRI sangat membantu dalam merintis usaha. Kini, usaha hatchery Tunas Muda berkembang dan mempunyai 3 karyawan.
Saat ini, Fikri juga melakukan pembimbingan bagi generasi muda yang tertarik pembenihan ikan patin. Pola yang digunakan berupa distribusi larva bagi hatchery yang belum mempunyai indukan.
"Jadi tak perlu pelit ilmu dalam persaingan bisnis, dengan bimbingan terhadap hatchery lain, kita juga mampu membuka pekerjaan bagi orang lain," ucapnya.
Dengan keberadaan hatchery ini, juga mampu memeberikan dampak positif bagi usaha pakan bibit ikan patin. Bibit ikan patin yang berumur 2 sampai 15 hari mengkonsumsi cacing sutera.
Untuk hatchery Tunas Muda, pada umumnya pakan bibit ikan patin didatangkan dari Kota Pekanbaru. "Kadang- kadang ada juga pencari cacing sutera yang mengantarkan, tetapi meteka tidak membudidayakan sendiri," sebutnya.
Ia mengatakan untuk usaha budidaya cacing sutera memiliki potensi yang cukup besar, sebab banyak hatchery skala besar maupun kecil bisa menampung berapapun cacing sutera tersebut.
"Untuk hatchery kita saja, perbulan mampu menghabiskan sekitar 400 kaleng cacing sutera, yang dihargai 20 ribu per kaleng," ujarnya.
Ia berharap kedepannya, untuk Kabupaten Kampar sudah ada yang bisa mengembangkan budidaya cacing sutera.
"Jadi ekosistem perikanan ini berjalan, sehingga kita mampu meningkatkan roda perekonomian masyarakat," tukasnya.
Penampakan udara lokasi hatchery Tunas Muda Fish Farm di Desa Lereng, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar. (HERDI/ RESONANSI.CO)
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Riau, Yusri Dt Bandaro Mudo mengatakan bahwa potensi perikanan di Kabupaten Kampar sangat menjanjikan.
Ia meyebut bahwa hasil perikanan air tawar patin Kampar mengalami surplus. Artinya sumber perikanan Kampar mampu menyuplai ke provinsi tetangga, seperti Jambi, Palembang dan Kabupaten/ Kota se- Provinsi Riau.
"Ini dikarenakan kualitas ikan patin kampar sangat baik," ujarnya.
"Bagi generasi muda walaupun tidak memiliki kolam, tetapi mempunyai space dipekarangan rumah, itu sudah bisa diberdayagunakan. Teknologinya sudah ada," tambah mantan Sekda Kampar tersebut.
Ia juga menilai bahwa Fikri merupakan manusia yang cerdas dan berhasil. Melalui KTNA, kami mendorong agar pemerintah fokus untuk mendukung usaha yang sudah naik kepermukaan dapat difasilitasi.
"Supaya bisa ciptakan kewirausahaan untuk membantu masyarakat, kita jadikan role model agar berdampak bagi warga sekitar," ujarnya.
Pimpinan Cabang BRI Bangkinang, Adi Setia Wardhana melalui Manager Bisnis Mikro, Brando Purba mengatakan bahwa Kabupaten Kampar memiliki beragam potensi di bidang UMKM. Seperti halnya pada dua Kecamatan Kuok dan XIII Koto Kampar yang memiliki potensi besar dibidang perikanan.
Ia menilai perkembangan UMKM di Kabupaten Kampar cukup menggembirakan, seperti halnya Tunas Muda Fish Farm. Tiap tahunnya, pihaknya terus mengawal pertumbuhan tersebut.
Ia menyebut sumber bisnis BRI ini berada di sektor UMKM. "Memang konsen mikro BRI itu disini," ujarnya.
Ia mengatakan BRI mendukung terhadap kegiatan UMKM di Kabupaten Kampar, seperti penyaluran KUR. "Ya, intinya kita tetap selektif," tukasnya. Herdi
Editor : Herdi Pasai
Berita Terkait
Berita Terbaru
THR Tak Dibayar Penuh, Menaker Sidak Perusahaan di Semarang
- Nasional
- 01 April 2026 05:41 WIB
Kejari Rohil Gelar Coffee Morning Bersama Insan Pers, Firdaus Tekankan Sinergi dan Keterbukaan Informasi
- Rohil
- 01 April 2026 05:35 WIB
IBOS Expo 2026 Kembali Digelar Agustus, Targetkan 7.500 Pengunjung dan 120 Brand Peluang Bisnis
- Nasional
- 31 Maret 2026 19:24 WIB
Menaker Tekankan Peningkatan Layanan Kemnaker agar Lebih Mudah Diakses
- Nasional
- 31 Maret 2026 18:53 WIB
PLN Peduli Mangrove Berakit: Dari Akar yang Ditanam, Harapan Masyarakat Tumbuh
- Nasional
- 31 Maret 2026 18:48 WIB
Dari Trauma ke Kinerja: PT Patra Drilling Contractor Edukasi Karyawan Lewat Health Talk
- Nasional
- 31 Maret 2026 16:20 WIB
Lantik PAW Bapekam, Bupati Siak Tekankan Sinergi dan Pengawasan di Tengah Tekanan Fiskal
- Siak
- 31 Maret 2026 12:26 WIB
Sekretaris Komisi II DPRD Kepri Kritik Keras Rencana PSN Pulau Poto
- Kepri
- 31 Maret 2026 05:37 WIB
Bupati Afni Minta Kepsek Kawal Program Makan Bergizi Gratis
- Siak
- 30 Maret 2026 21:44 WIB
Tebar Manfaat Seraya Penuhi Hak WBP, Lapas Tembilahan gandeng BAZNAS Hadirkan Dampak nyata
- Inhil
- 30 Maret 2026 13:53 WIB
Gubernur Ansar Ahmad Pimpin Apel Perdana Pasca Idulfitri, Minta ASN Kepri Tingkatkan Kinerja
- Kepri
- 30 Maret 2026 13:39 WIB
