Riau Butuh Sinkronisasi Pusat dan Daerah untuk Kejar Target Investasi Rp72,5 Triliun

Pekanbaru – Pemerintah Provinsi Riau membutuhkan penguatan kebijakan serta dukungan pemerintah pusat dalam menyelesaikan berbagai hambatan usaha guna mendongkrak realisasi investasi tahun 2026. Sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah dinilai menjadi faktor penting agar target investasi sebesar Rp72,5 triliun dapat tercapai.

Berdasarkan data triwulan pertama 2026, realisasi investasi di Provinsi Riau sepanjang Januari hingga Maret tercatat sebesar Rp12,85 triliun atau baru sekitar 17,7 persen dari target tahunan. Meski demikian, capaian tersebut menempatkan Riau di posisi ketiga regional Sumatera, baik untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA). Secara nasional, Riau berada di peringkat ke-15.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Riau, Vera Angelika OK mengatakan, investasi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

“Penanaman modal dalam negeri mencapai Rp9,6 triliun dan berada di peringkat ke-10 nasional. Sementara penanaman modal asing tercatat sebesar 197,01 juta dolar AS atau setara Rp3,25 triliun,” ujarnya dikutip, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Vera, capaian awal tahun tersebut menunjukkan daya tarik investasi Riau masih cukup kuat di wilayah Sumatera. Namun, strategi pembangunan ke depan tidak hanya fokus menarik investasi mentah, melainkan mendorong hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah sekaligus mendukung pengembangan ekonomi hijau.

Dari sisi wilayah, investasi di Riau masih terkonsentrasi di kawasan pesisir dan perkotaan. Kota Dumai menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar mencapai Rp3,05 triliun, disusul Kota Pekanbaru sebesar Rp2,55 triliun.

Sementara itu, Kabupaten Indragiri Hilir mencatat investasi Rp1,74 triliun, Kabupaten Rokan Hilir Rp1,13 triliun, dan Kabupaten Pelalawan sebesar Rp1,04 triliun.

Untuk investasi asing, Singapura masih mendominasi dengan kontribusi sekitar 70,77 persen atau senilai Rp2,3 triliun. Selain itu, investasi juga berasal dari Malaysia dan sejumlah negara kawasan kepulauan seperti Bermuda, Seychelles, serta Kepulauan Virgin Inggris.

Adapun sektor industri makanan menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai Rp2,825 triliun. Disusul sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan sebesar Rp2,24 triliun, industri kimia dan farmasi Rp1,83 triliun, perumahan dan kawasan industri Rp1,12 triliun, serta sektor pertambangan sebesar Rp1,05 triliun.

Kelima sektor tersebut tercatat menguasai lebih dari 70 persen total investasi di Riau.

Untuk mengejar target investasi pada kuartal berikutnya, Pemprov Riau berharap sejumlah proyek strategis dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi. Beberapa proyek yang diandalkan antara lain pembangunan jalan tol lingkar Pekanbaru ruas Rengat-Pekanbaru, pengembangan Kawasan Industri Buruk Bakul, hingga proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 gigawatt di Pulau Rangsang.

Selain itu, pemerintah daerah juga terus memperbaiki tata kelola birokrasi dan kualitas layanan publik sesuai arahan Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto.

Perbaikan pelayanan diharapkan mampu menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif, meningkatkan kepercayaan investor, serta membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Indra

Editor : Herdi Pasai
Tag : # Ekonomi



Bagikan